Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Selamat Datang Tuan Obama!

23 Mar 2010


Selamat datang Tuan Obama. Sepertinya, Anda masih ragu bahwa kami akan menyambut Anda sebagai tamu dan memperlakukan Anda dengan baik. Betul demikian? Oh, Anda bertanya soal saudara-saudara kami yang menolak kehadiran Anda, Tuan Obama? To the point sekali Anda ini ya! Khas Amerika. Tetapi kami suka itu; sebuah gambaran sikap sangkil dan tak bertele-tele.

Baik, ini tentang mereka yang menolak kehadiran Anda. Ya, tentu saja pasti ada. Sebaik apapun, tak ada manusia di dunia ini yang bisa disukai oleh semua orang. Adalah mustahil untuk menyenangkan semua pihak. Anda tentu memahaminya. Anda pasti pernah merasakannya. Terutama saat rakyat Amerika menentukan pilihan sulit yang akhirnya memenangkan Anda sebagai presiden mereka. Kami tahu, Anda pernah ditentang secara lebih getir dan menyakitkan daripada penolakan ini. Bahkan juga dalam hari-hari ini, di negara Anda sendiri.


Dan inilah negeri kami yang menghormati kebebasan warganya untuk mengungkapkan aspirasi. Inilah negara demokrasi yang dalam banyak hal seringkali jauh lebih demokratis daripada negara Anda, Tuan Obama. Mereka, saudara-saudara kami itu, berdemonstrasi, menggelar acara di mana-mana. Ya. Pemerintah kami pun takkan bisa menghentikan itu, Tuan Obama. Kami orang Indonesia yang jamaknya muslim ini terbiasa menenggang perbedaan, menghargai pendapat sesama, dan merembuk semua soal secara baik-baik dalam musyawarah.

Dalam hal ini, dengan tulus hati kami sampaikan, Amerika memang harus belajar dari Indonesia.

Anda bertanya,”Jadi kalian muslim yang berbeda kelompok? Apakah mereka fundamentalis dan kalian moderat?” Kami katakan tidak, Tuan Obama. Kami muslim, kami bersaudara, dan kami tetap satu barisan. Bagi kami, situasi tak boleh lebih penting daripada hubungan. Situasinya adalah kami berbeda pendapat tentang kehadiran Anda –juga tentang banyak hal yang lain-. Adapun hubungan di antara kami adalah persaudaraan. Untuk Anda fahami, hubungan persaudaraan kami jauh lebih kuat daripada situasi perbedaan pendapat kami itu.

Saya akan membuatnya mudah untuk Anda, Tuan Obama; ini seperti seorang isteri yang tak selalu setuju dan tak selalu menyukai tamu-tamu suaminya. Tapi mereka pantang bercerai jika hanya soal itu. Kedatangan Anda memang membuat kami berbeda pendapat, tetapi jangan ragukan persaudaraan dan ikatan cinta di antara kami. Dan, -maaf jika agak kasar-, jangan coba-coba memecah belah kami.

Tuan Obama, sesungguhnya ada banyak alasan mengapa kami bersedia menyambut dan menerima Anda. Pertama-tama tentu saja karena Anda datang sebagai tamu. Setidaknya itulah yang anda katakan. Nabi kami sungguh berpesan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”

Beliau telah memberi banyak contoh kepada kami Tuan Obama. Beliau berkenan menerima tamu bahkan yang paling tidak menyenangkan sekalipun. Di antara mereka ada ‘Utbah ibn Rabi’ah yang jahat dan suka menyiksa sahabat-sahabat beliau nan lemah. Tapi ketika dia datang sebagai tamu yang hendak bicara, Sang Nabi menerimanya dengan senyum dan tangan terbuka. “Duduklah hai Abul Walid”, sabda beliau menyapanya dengan panggilan kehormatan, “Dan katakanlah segala yang menjadi hajatmu.Aku akan mendengarkan dan menyimaknya.”

Lalu Utbah pun bicara panjang, lebar, tinggi, dan banyak tentang keberatan Quraisy atas da’wah beliau. Setelah sekian lama bicara, Utbah terdiam sementara sang Nabi mengangguk tanda mengerti. “Apakah engkau sudah selesaai atau akan menambah lagi hai Abul Walid?”

“Aku sudah selesai ya Muhammad!”

“Jika demikian, bersediakah engkau mendengarkan apa yang hendak aku sampaikan?”

“Ya.”

Lalu Sang Nabi membacakan untuknya Surat Fushilat, Tuan Obama. Itu salah satu Surat dalam Al Quran yang bicara tentang visi dan misi kenabian beliau dengan nada yang sangat indah. Dan diapun mengerti,bahwa memusuhi Sang Nabi bukanlah pilihan yang bijak. Dia mengatakan kepada Quraisy, “Tinggalkan lelaki ini dengan urusannya. Sesungguhnya kejayaannya akan menjadi kejayaan kalian. Dan jika dia menang, maka bangsa Arab tak lagi membutuhkan kemuliaan selain dirinya.”

Kami tahu Tuan Obama, yang tak bersedia mendengar takkan bisa didengar. Maka kami akan terlebih dahulu mendengarkan Anda. Katakan saja segala yang Anda keluhkan. Kami tahu, bahwa bahkan di negeri Anda, di sekitar Anda, ada begitu banyak penentang yang melawan Anda dalam mewujudkan janji-janji kampanye Anda. Mereka juga menghalangi Anda dengan segala cara setelah Anda bicara di Kairo dan mengucapkan banyak janji pada kami tentang perbaikan hubungan antara Amerika dengan Dunia Islam.

Kami tahu anda orang yang tertekan. Maka bicaralah, kami insyaallah akan mendengarkan Anda. Setelah itu kami akan menyemangati Anda untuk melanjutkan segala yang pernah Anda impikan tentang dunia yang penuh nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Kami tahu itu berat, tapi Anda pernah menjanjikannya pada kami. Janji seorang lelaki terhormat pasti dia junjung tinggi. Begitu bukan Tuan Obama?

Dan sesungguhnya kami juga akan meminta pada Anda beberapa hal yang kami berharap Anda, Tuan Obama, akan mewujudkannya untuk kami. Saudara-saudara kami di Gaza masih terpenjara, Israel masih membantai warganya tiap hari dan membangun pemukiman zhalim di tanah-tanah rampasan. Palestina masih terus berduka. ‘Iraq dan juga Afghanistan, ah, tarik saja tentara Anda dari sana, insyaallah perdamaian justru akan lebih mudah kami wujudkan.

Tuan Obama, banyak sekali yang kami minta Anda untuk mendengarkannya. Tapi biarlah detailnya nanti saja. Sekarang, silakan Anda yang lebih dulu bicara. Kami hormati itu. Dan sekali lagi, anda adalah tamu kami yang harus dijamu dan dimuliakan. Apalagi anda pernah melewatkan masa kecil di negeri ini. Sungguh kurang beradab kalau kami melarang seseorang mengunjungi tempat yang pernah punya makna bagi kehidupannya.

Selamat datang Tuan Obama, kami siap menyambut Anda.

Sayangnya kami juga tak bisa mengelak dari aksioma ‘Ali ibn Abi Thalib, menantu Nabi kami itu. “Musuhmu ada tiga”, ujar beliau empatbelas abad lalu, “Yakni musuhmu sendiri, kawan musuhmu, dan musuh kawanmu.” Kami melihat anda masih akrab dengan musuh kami Israel, dan anda menambah tentara untuk menindas kawan kami di Afghanistan. Sepertinya Anda masih menjadi musuh kami.

Tapi Tuan Obama, musuh yang cerdas lebih berharga daripada kawan yang bodoh. Kami tahu itu. Anda lebih baik masuk kelompok pertama saja daripada menjadi kawan kami tapi malah merepotkan. He he..

Sebagian pihak menganggapAnda sama saja dengan Tuan Bush. Ah, dulu kami menolak kehadiran Tuan Bush. Tapi kini kami menerima Anda. Itu sungguh karena hati kami telanjur berselimut baik sangka kepada Anda. Kami menganggap Anda berbeda dari dia. Ketika Anda berkampanye, ketika anda bicara di Kairo, anda sudah sampaikan itu. Dan kami mencoba percaya. Apalagi karena Amerika juga lebih menghendaki perubahan sehingga memilih Anda. Mereka tidak memilih John McCain, kandidat yang digadang-gadang Tuan Bush.

Kami ingat bahwa leluhur kami yang adil dan pemberani, Shalahuddin Al Ayyubi, memperlakukan Guy de Lusignan dan Reynald de Chattilon dengan cara berbeda. Guy, Raja Yerusalem itu ditawari minuman sejuk, sementara Reynald langsung dipenggal. Maaf, kalau analogi ini agak menyinggung Anda. Tapi Bush bagi kami lebih jahat dari Reynald. Dan, yah, kami tahu, tangan Anda juga masih berlumuran darah saudara-saudara kami di Afghanistan, Iraq, dan tempat-tempat lain meski sepertinya Anda tidak separah Guy de Lusignan.

Wah, saya yakin, Anda pernah menonton Kingdom of Heaven garapan Riddley Scott!

Lagipula, Shalahuddin Al Ayyubi pernah datang ke kemah musuhnya yang lain, Richard The Lionheart, Raja Inggris, untuk mengobati penyakitnya. Padahal Richard pernah memerintahkan pembunuhan 3000 tawanan muslim yang ada di tangannya. Itu sungguh kekejian yang besar. Tapi demikianlah Shalahuddin, pahlawan kami yang agung dan ksatria.

Tuan Obama, dengan menyambut Anda, kami mencoba untuk menjadi pewaris sifat-sifat ksatria dan akhlaq mulia itu, alhamdulillah.

Akhirnya, terimakasih, sudah berkenan berkunjung ke negeri kami. Tanggal 21 Maret, ketika matahari berada tepat di atas khatulistiwa, duapuluh enam tahun, lalu dengan berdarah-darah seorang ibu melahirkan anaknya. Itu perjuangan bertaruh nyawa yang sangat lama Tuan Obama. Sejak konstraksi pertama hingga kelahiran memakan waktu tiga hari. Ibu itu seorang perempuan yang sangat hebat.

Dan anak yang dilahirkan itu adalah saya. Ini ulang tahun syamsiyah saya Tuan Obama, terimakasih berkenan hadir. Saya pasti mengingatnya.

Wah, anda tertawa Tuan Obama. Seakan Anda ingin berkata bahwa yang bicara panjang lebar pada Anda sejak awal tulisan ini ternyata bukan siapa-siapa. Sebenarnya saya bermimpi Tuan Obama. Duapuluh empat tahun dari hari ini, yang menuliskan paragraf-paragraf ini adalah seorang Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri.

Wah, anda tertawa lagi. Ha ha ha..

Jangan menganggapnya mustahil Tuan Obama. Sesungguhnya empatpuluh sembilan tahun lalu rakyat Amerika tak menduga bahwa seorang lelaki dari Kenya yang datang untukmenikahi wanita Amerika lalu meninggalkannya pulang ke Afrika lagi itu sebenarnya datang untuk sebuah misi mahapenting. Dia datang sejenak, hanya dan hanya, untukmenitipkan seorang Presiden bagi Amerika Serikat.

Karena dari wanita itu, Anda lahir Tuan Obama. Itulah Anda, salah satu takdir ajaib untuk sebuah negara adidaya bernama Amerika. Maka selamat datang di negeri keajaiban bernama Indonesia. Selamat datang, Tuan Obama!

Salim A. Fillah
-www.safillah.co.cc-

Read More......

Bidadari Syurga

7 Mar 2010


Namanya "Aini". begitu ummi biasa memanggilnya. Salah satu "adik " terbaik yang pernah ummi miliki, yang pernah ummi temui dan alhamdulillah Allah pertemukan ummi dengannya.

Seharusnya 28 Januari lalu genap ia menginjak usia 37 tahun. Beberapa tahun bersamanya , banyak contoh yang bisa ummi ambil darinya. Kedewasaan sikap, keshabaran, keistiqomahan, dan pengabdian yang luar biasa meretas jalan da'wah ini. Seorang muharrik da'wah yang tangguh dan tak pernah menyerah. Sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah putus asa dan memiliki khusnuzon yang teramat tinggi kepada Allah. Dan dia adalah salah satu amanah ummi terberat, ketika memang harusnya ia sudah memasuki sebuah jenjang pernikahan.


Ketika beberapa akhwat lain yang lebih muda usianya melenggang dengan mudahnya menuju jenjang tersebut, maka 'Aini Allah taqdirkan harus terus meretas kesabaran. Beberapa kali ummi berikhtiar membantunya menemukan ikhwan shalih, tetapi ketika sudah memulai setengah perjalanan proses..Allah pun berkehendak lain. Namun begitu, tidak pernah ada protes yang keluar dari lisannya, tidak juga ada keluh kesah, atau bahkan mempertanyakan kenapa sang ikhwan begitu " lemahnya " hingga tidak mampu menerjang berbagai penghalang ? Atau ketika masalah fisik, suku , serta terlebih usia yang selalu menjadi kendala utama seorang ikhwan mengundurkan diri , 'Aini pun tidak pernah mempertanyakan atau memprotes " kenapa ikhwan sekarang seperti ini ?

Tidak ada gurat sesal, kecewa, atau sedih pada raut muka ataupun tutur katanya . Kepasrahan dan keyakinan terhadap kehendak Allah begitu indah terlukis dalam dirinya.

Hingga, akhirnya seorang ikhwan shalih yang dengan kebaikan akhlak serta ilmunya, datang dan berkenan untuk menjadikannya seorang pendamping. Tidak ada luapan euphoria kebahagiaan yang ia tampakkan selain ucapan singkat yang penuh makna " Alhamdulillah. .jazakillah ummi sudah membantu...mohon do'a agar diridhai Allah "

Alhamdulillah , Allah mudahkan proses ta'arauf serta khitbah mereka, tanpa ada kendala apapun seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Padahal ikhwan shalih yang Allah pilihkan tersebut berusia 10 tahun lebih muda dari usianya.

Berkomitmen pada sunnah Rasulullah untuk menyegerakan sebuah pernikahan, maka rencana akad pun direncanakan 1 bulan kemudian, bertepatan dengan selesainya adik sang ikhwan menyelesaikan studi di negeri Mesir.

Namun , Allah lah Maha Sebaik-baik Pembuat keputusan..

2 minggu menjelang hari pernikahan, sebuah kabar duka pun datang. Usai 'Aini mengisi sebuah ta'lim , motor yang dikendarainya terserempet sebuah mobil, dan menabrak kontainer didepannya. 'Aini shalihah pun harus meregang nyawa di ruang ICU. 2 hari setelah peristiwa itu, Rumah sakit yang menanganinya pun menyatakan menyerah. Tidak sanggup berbuat banyak karena kondisinya yang begitu parah.

Hanya iringan dzikir disela-sela isak tangis kami yang berada disana. Semua keluarga 'Aini juga sang ikhwan pun sudah berkumpul. Mencoba menata hati bersama untuk pasrah dan bersiap menerima apapun ketentuanNya. Kami hanya terus berdo'a agar Allah berikan yang terbaik dan terindah untuknya. Hingga sesaat, Allah mengijinkan 'Aini tersadar dan menggerakkan jemarinya. Rabb..sebait harapan pun kembali kami rajut agar Allah berkenan memberikan kesembuhan, walau harapan itu terus menipis seiring kondisinya yang semakin melemah. Hingga kemudian sang ikhwan pun mengajukan sebuah permintaan kepada keluarga 'Aini.

" Ijinkan saya untuk membantunya menggenapkan setengah Dien ini. Jika Allah berkehendak memanggilnya, maka ia datang menghadap Allah dalam keadaan sudah melaksanakan sunnah Rasulullah.. ."

Permintaan yang membuat kami semua tertegun. Yakinkah dia dengan keputusannya ?

Dalam kedaaan demikian , akhirnya 2 keluarga besar itupun sepakat memenuhi permintaan sang ikhwan.

Sang bunda pun membisikkan rencana tersebut di telinga 'Aini. Dan baru kali itulah ummi melihat aliran airmata mengalir dari sepasang mata jernihnya.

Tepat pukul 16.00, dihadiri seorang penghulu,orangtua dari 2 pihak, serta beberapa sahabat dan dokter serta perawat...pernikaha n yang penuh tangis duka itupun dilaksanakan. Tidak seperti pernikahan lazimnya yang diiringi tangis kebahagiaan, maka pernikahan tersebut penuh dengan rasa yang sangat sulit terlukiskan. Khidmat, sepi namun penuh isakan tangis kesedihan.

Tepat setelah ijab kabul terucap...sang ikhwan pun mencium kening 'Aini serta membacakan do'a diatas kain perban putih yang sudah berganti warna menjadi merah penuh darah yang menutupi hampir seluruh kepala A'ini. Lirih, kami pun masih mendengar 'Aini berucap, " Tolong Ikhlaskan saya....."

Hanya 5 menit. Ya..hanya 5 menit setelah ijab kabul itu. Tangisanpun memecah ruangan yang tadinya senyap menahan sesak dan airmata. Akhirnya Allah menjemputnya dalam keadaan tenang dan senyum indah.

Dia telah menjemput seorang bidadari...

Sungguh indah karunia dan janji yang telah Allah berikan padanya...

Dia memang hanya pantas untuk para mujahidNya di Jannah al firdausi....

Dan sang ikhwan pun melepas dengan penuh sukacita dengan iringan tetes airmata yang tidak kuasa ditahannya.. .

" ..Saya telah menikahi seorang bidadari.. nikmat mana lagi yang saya dustakan..."

Begitulah sang ikhwan shalih mengutip ayat Ar RahmanNya...

Ya Rabb..Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan hambaMu..Maka jadikanlah kami senantiasa dapat memngambil hikmah dari setiap episode kehidupan yang Engkau berikan...

Selamat jalan adikku sayang ...engkau memang bidadari surga yang Allah tidak berkenan seorang ikhwan pun didunia ini yang bisa mendampingi kehidupanmu kecuali para ikhwan shalih yang berkhidmat di jalan da'wah dengan ikhlas, tawadhu dan siap berjihad dijalanNya dan kelak menutup mata sebagai seorang syuhada...."

Selamat jalan 'Aini..semoga Allah memberimu tempat terindah di surgaNya....

( bait kenangan terakhir bersamamu; ummi tidak bisa menulis seindah tulisan2mu, tapi yakinlah ummi mengiringimu dengan indahnya do'a ...semoga Allah kumpulkan kita kelak didalam surgaNya...amiin)

>>>bila ada kebaikan silahkan share k tmn2...
by : Siswanto anto

Read More......

Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri

1 Mar 2010


Author: Abu Aufa

Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan
di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa.

Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah
Subhanahu wa Ta'ala, menjadikan dirinya ditakdirkan
terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15
Trisomy Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan
seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah sekalipun ia
terlihat menyesali nasibnya.



Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental,
menjelang akhir hayatnya ia juga menderita sakit
ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh dan
bisu. Bahkan beberapa hari sebelum maut menjemput,
kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis ketakutan
yang kekanak-kanakan, akan membuat siapapun yang
mendengar giris hatinya.

"Ma... ma... aku takut, gelap ma. Mama di sini sama
aku ya ma," terdengar rengekannya yang pernah membuat
air mata mamaku tumpah.
Beliau lalu mengajak Dian berdzikir dan membaca
do'a-do'a.

Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan
saudara-saudara yang lain berburuk sangka kepada-Nya,
"Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih
ini kepada adik kami?" Pertanyaan itu sering kali
menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani hati ini.

Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak
pernah hidup normal seperti layaknya
saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah,
lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun,
bukankah Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih tahu
segalanya. Mungkin IA hanya tersenyum bijaksana,
menatap kesalahpahaman kami semua.

Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak
hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat merah dan
perban karena koreng bernanah, bahkan sebagian
hidupnya yang harus dijalani dengan kursi roda, tak
mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya.

Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan
sosok jiwanya yang begitu lembut. Ia tak pernah tega
walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring
nasinya. Ia hanya menjerit-jerit, "Ma... nyamut,
nyamut ma!" karena saat itu ia tidak bisa membedakan
antara nyamuk dan semut.

Lalu aku yang saat itu mendengar tergopoh-gopoh
menghampirinya, "Jangan menangis Dian, ini kan cuma
semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi." Lalu
kuusir semut-semut itu, dengan tepukan tangan di
lantai teras depan rumah kami.

Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian.
Betapa tidak?
Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan
kematiannya di usia 30 tahun adalah peristiwa terindah
yang pernah kudengar.

Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput,
mamaku meminta Dian untuk selalu mengingat Allah
Subhanahu wa Ta'ala sambil membelai-belai lembut
kepalanya, "Dian, nyebut ya sayang, ya Allah... gitu
nak. Ya Allah... Allahu Akbar!"
Lalu mama membaca surah Yaa siin di pinggir tempat
tidur, sedangkan bapak melakukan sholat Ashar, tak
jauh dari sisi tempat tidur Dian.

Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku
dengan tabah berusaha membimbingnya mengucapkan
"Allahu Akbar, ya Allah."
Hingga suatu saat, ketika mama membisikkan kalimat
itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan
bergumam lirih, "Aaaaaahhhhhh..."

Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang
telah buta. Mungkin sebagai isyarat permintaan maaf,
dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan
berpulang kepada Sang Pencipta.

"Pulanglah Dian ke haribaan Allah..." kata mama dengan
tabah di sela isakan tangisan. Lalu dengan tenang Dian
meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas
terakhirnya.

Di saat penguburan, mama mengecup telapak tangannya
sendiri kemudian melambai ke pusara Dian.
"Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana
ya, nak," katanya seraya menatap lubang peristirahatan
terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh
para sanak saudara dan sahabat.

Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan
teristimewa di antara saudara-saudaranya. Karena itu
Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengirim bapak untuk
pulang menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya.
Mungkin sebagai jawaban kepada bapak yang memang
selalu merindukan anak istimewanya.

Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut
sendirian, karena bapak telah berada di sana untuk
menemaninya.

Dian, adikku tersayang...
Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya sayang.
Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu
berkata, engkau tak akan pernah sendirian, karena do'a
dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku
tercinta.

Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan
teramat indah dari apa yang mungkin pernah engkau
bayangkan.
Selamat jalan sayang, selamat tinggal adikku yang
teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak
pernah sendirian.

WaLlahua'lam bi shawab.

Read More......
 
 
 

KUNJUNGAN

free counters
Powered By Blogger

detiknews - detiknews

JARINGAN

 
Copyright © KAMUS BABEL