Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

RABITHAH. doa Cinta Mujahid Dakwah

13 Jun 2010

..................................................................
Doa Rabithah, merupakan untaian kalimat yang mempunyai tempat tersendiri di dalam jiwa pejuang dakwah.

Dengan doa ini, kesenjangan yang ada bisa menjadi kedekatan, perbedaan yang ada bisa menjelma menjadi kesamaan, kebencian pun akan luntur berganti menjadi kecintaan.

Doa ini merupakan bagian dari rangkaian doa yang kerap kita ucapkan baik bersama maupun sendiri.


Sejak KITA DIPERTEMUKAN DI JALAN INI…JALAN DAKWAH !

Bagi kita doa ini memiliki sentuhan yang kuat, sentuhan ruhani,yang menggelora.

Doa ini membuat kita larut dalam hangatnya iman kepada Alloh, yang membalut persahabat kita di jalan ini…

Benarlah jika doa ini dikatakan doa rabithah yang berarti menguatkan dan mengikat hati

Benarpula jika doa ini disebut dengan wirid al quluub yang berarti wirid hati, karena memang bertujuan menyatukan hati.

Ada empat point besar dalam doa ini, atau dalam bentuk sistematika saya tuliskan sebagai berikut;

PERTAMA, doa ini menjelaskan tentang SIFAATUL QULUUB (sifat hati) yang kita miliki, perhatikan isi doa ini

“Ya Alloh Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul karena kecintaan kami kepadaMU, telah bertemu untuk mematuhi perintahMu, telah bersatu dalam menyeruMu, telah mengikat janji setia untuk menolong syariatMu”

KEDUA, doa ini menjelaskan pinta kita kepada Alloh SWT untuk memberikan TARBIYATUL QULUUB (Pembinaan atas hati kita), perhatikan isi doa ini

“Maka eratkanlah ikatan hati-hati ini, kekalkanlah kemesraannya antara hati-hati ini,tunjukilah hati-hati ini akan jalannya”

KETIGA, doa ini menjelaskan permintaan kita kepada Alloh SWT untuk memberikan ZAADUL QULUUB (bekal untuk hati), perhatikan isi doa ini

“(Ya Alloh) penuhilah hati-hati ini dengan cahayaMu yang tak pernah redup, Ya Alloh lapangkanlah Seluruh hati ini dengan limpahan iman kepadaMu, dengan keindahan bertawakal kepadaMu”

KEEMPAT, doa ini menjelaskan permohonan kita kepada Alloh SWT berupa AMALUL QULUUB yakni agar hati kita berpungsi, dengan sesuatu yang Alloh ridhoi, perhatikan isi doa ini

“Ya Alloh jika Engkau mentakdirkan mati, maka wafatkanlah pemilik hati-hati ini dalam keadaan syahid di jalanMu, Engkaulah sebaik-baiknya sandaran dan sebaik-baiknya penolong……”

Sahabat…saya Hamzah Al Mubarok melihat,Doa Rabithah di bandingkan doa lain memiliki sisi kelebihan yaitu

PERTAMA, doa ini disusun untuk para aktivis dakwah, agar mereka selalu mengingat prinsip-prinsip perjuangan, yang meliputi WIHDATUL GHAYAH (satu tujuan) WIHDATUL AQIDAH (satu akidah), WIHDATUL MINHAJ (satu konsep), WIHDATUL JA’MAAH (satu jamaah), WIHDATUL QIYADAH (satu kepemimpinan), WIHDATUL HARAKAH (satu gerakan), WIHDATUL AS-SYU’UR (satu perasaan)

KEDUA doa ini, bertujuan mengkondisikan dan menyatukan hati para aktivis dakwah.

KETIGA, doa ini mengandung pesan penting, untuk para aktivis dakwah, bahwa kekuatan ukhuwah, yang ditandai dengan kuatnya ikatan hati merupakan prinsip, dalam gerakan dakwah dan sebagai syarat kemenangan harakah islamiyah.

KEEMPAT, dengan doa rabithah, kita memahami bahwa dakwah telah menyatukan para aktivis dari berbagai generasi semenjak ada kegiatan dakwah, di muka bumi, sampai kiamat nanti.

Sahabat…
Doa ini adalah gubahan Kalimat dari Imam Syahid Hasan AlBanna, tujuannya bukan hanya dalam bentuk permintaan yang memiliki makna Indah dan dalam, tapi untuk memotivasi siapapun yang membacanya, mengalirkan semangat persatuan, persaudaraan dan kecintaan di atas jalan dakwah….

Semoga hati-hati kita dikumpulkan dengan hati para Nabi dan Rasul, para syuhada, para shalihin dan ulama amilin.

Semoga kita dikaruniai hati yang hidup, sehat dan kuat dalam Mengemban risalah dakwah, dan amanah khilafah di bumi ini. Hati yang berandil dalam mewujudkan peradaban Islam dan hati yang siap memikul tugas USTADZIYATUL ALAM

Maka izinkanlah saya HAMZAH AL MUBAROK, walau belum pernah berjumpa dengan antum semua, izinkan saya membayangkan wajah antum, didalam pikiran ini, dikelopak mata ini, seiring dengan doa rabithah yang terucap dari bibir dan hati…

Semoga Alloh SWT menguatkan ukhuwah dan ruhiyah kita….Ya Saudaraku…!!

)I(HAMZAH)I(

Read More......

Mengetuk Pintu Langit di Sepertiga Malam Terakhir

5 May 2010

Akhi dan ukhti fillah…
Tugas dan beban hidup begitu banyak menggelayuti tubuh kita. Bungkuk dan terseok jalan kita kalau tugas-tugas itu berupa materi kasar dan berat. Tugas-tugas pekerjaan, urusan rumah tangga dan anak-anak, tugas-tugas kemasyarakatan, terutama tugas-tugas dakwah. Kita tentu siap menghadapi semua itu sebagai konsekuensi seorang muslim yang punya kepedulian terhadap nasib islam dan umatnya.

Tenaga dan pikiran sangat terbatas, waktu yang tersedia rasanya tidak mencukupi. Target-target yang harus dicapai terasa berat. Tantangan dan hambatan begitu banyak menghadang. Belum lagi kondisi diri yang tidak selalu fit, baik secara fisik maupun mental spiritual. Kalau bukan karena kehidupan berjamaah, di mana tangan kita bergandeng terajut bersama tangan-tangan lain untuk mengangkat beban-beban itu, tentu tak sanggup kita memanggulnya seorang diri.


Akhi dan ukhti fillah…
Agar beban terasa ringan, ada baiknya kita sejenak luangkan waktu untuk tumpahkan duka dan curahkan perasaan, mengadukan kelemahan kita kepada yang Mahakuat, mengakui kekerdilan diri kepada yang Mahabesar, menyambung napas kita yang tersenggal-senggal itu dengan yang Mahakuasa atas segala sesuatu di sepertiga malam terakhir, di keheningan malam, di kala makhluk Allah larut dalam dekapan mimpi. Kala Tuhan semesta alam turun ke langit dunia untuk mendengarkan bisikan hamba-Nya.

Akhi dan ukhti fillah…
Disebutkan dalam sebuah hadits dari Jabir r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إن في الليل لساعة لا يوافقها رجل مسلم يسأل الله خيرا من أمر الدنيا والآخرة إلا أعطاه إياه وذلك كل ليلة

"Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat di mana tidaklah seorang Muslim menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya), dan itu (terjadi) setiap malam." (HR. Muslim dan Ahmad)

Qiyamullail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, di mana ia merasakan kelezatan munajat dengan Pencipta, berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji-Nya. Dengan harapan kiranya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mempermudah semua aspek kehidupan hamba-Nya, baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula aspek dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Dia akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.

Qiyamullail Mendekatkan Diri Kepada Allah
Orang yang kontinyu mengerjakan qiyamullail pasti dicintai dan dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

"Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena itu merupakan tradisi orang-orang shalih sebelummu. Sesungguhnya shalat malam itu mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari berbuat dosa, menghapus kesalahan, dan mengusir penyakit dari tubuh." (HR. Tirmidzi)

Akhi dan ukhti fillah…
Dapat dipahami bahwa qiyamullail selain mendekatkan diri kepada Allah, juga dapat mencetak kesalehan dan kesehatan fisik dari penyakit dan kesehatan batin dari lumpuran dosa. Berbagai kebaikan dan manfaat Allah sediakan untuk hamba melalui sarana qiyamullail. Tak cukupkah dipahami, bagaimana tingkat kuatnya ruhiyah seseorang yang dapat mengusir kantuk dan penat, lalu berangkat berwudlu untuk menghadap Rabbnya? Jasadnya sesungguhnya punya hak untuk istirahat dari penatnya siang, namun sebagian waktu istirahatnya itu diabaikan demi Tuhannya.

Dari Sahl bin Sa'ad r.a. ia berkata, "Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata:

يا محمد ، عش ما شئت فإنك ميت ، وأحبب من أحببت فإنك مفارقه ، واعمل ما شئت فإنك مجزي به » ثم قال : « يا محمد شرف المؤمن قيام الليل وعزه استغناؤه عن الناس

"Wahai Muhammad, hiduplah semaumu, kamu pun akhirnya akan mati. Cintailah siapa yang ingin kamu cintai, kamu pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Kemudian ia melanjutkan, "kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain" (HR. Hakim)

Seorang dai yang ingin mulia di sisi Allah dan di sisi manusia hendaknya ia membiasakan qiyamullail. Wajahnya akan ceria, karena dia bermunajat dengan Ar-Rahman, sehingga terpancarlah nur dari wajahnya. Maka ia akan dicintai oleh sesama manusia karena Allah mencintainya.

Qiyamullail Penyebab Masuk Surga
Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Salam dari Rasulullah SAW bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

"Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah di saat orang-orang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat" [HR. Tirmidzi]

Seorang dai yang ingin berhasil dakwahnya harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan dan silaturahim, dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyamullail, namun mereka yang kontinyu melaksanakan qiyamullail sangat sedikit jumlahnya. Semoga kita termasuk kelompok ini yang dapat masuk surga Allah.

Kiat-kiat Mempermudah Qiyamullail
Akhi dan ukhti fillah…
Qiyamullail memerlukan kesungguhan dan kebulatan tekad. Jika demikian, akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah. Berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat kepada Yang Maha Pengasih:
1. Memprogram aktivitas 24 jam
2. Memahami kebutuhan jasmani, aqli, dan ruhani, serta diberikan dengan seimbang
3. Menghindari maksiat. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama lima bulan disebabkan satu dosa yang kulakukan"
4. Mengetahui fadhilah (keutamaan) dan keistemewaannya
5. Merasakan bahwa Allah dan Rasul-Nya yang mengajak Anda untuk qiyamullail
6. Tidur sesuai dengan adab Islam
7. Memahami bahwa Allah tertawa karena Anda melakukan shalat
8. Memohon kepada Allah agar dipermudah bangun malam
9. Mempunyai perasaan bermunajat dengan Allah yang Maha Kasih Sayang.

Inilah yang dapat disajikan kepada akhi dan ukhti fillah, tentang urgensi, keutamaan dan kiat-kiat qiyamullail. Semoga memberikan motivasi kepada kita menjadi orang yang dekat dengan Allah, mulia di sisi Allah dan di sisi manusia dan akhirnya menjadi penghuni surga.

Akhi dan ukhti fillah…
Untuk kemenangan dakwah; untuk kejayaan Islam; demi berkibarnya panji-panji Muhammad; demi tegaknya keadilan di muka bumi; dan tersebarnya rahmat Allah, bangunlah akhi dan ukhti di sepertiga malam terakhir. Ketuklah pintu langit. Jika berjuta tangan mengetuk untuk satu tujuan, satu keinginan, akan terasa kuat getaran dan gedorannya. Dan Allah tidak pernah ingkar janji.

Rasulullah SAW bersabda:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له

"Setiap malam, saat tersisa sepertiga malam terakhir, Rabb kita –tabaraka wa ta'ala- turun ke langit dunia, lalu berfirman, "Adakah seseorang yang berdoa kepada-Ku untuk Aku kabulkan? Adakah seseorang yang meminta-Ku untuk Aku beri? Dan adakah seseorang yang memohon ampun kepada-Ku untuk Aku ampuni?" (HR. Bukhari dan Muslim) [Sumber: Seri Taujih Pekanan jilid II]

Read More......

Kebaikan yang Mengintip

14 Apr 2010

Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka

berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik
***
Lelaki itu menyipitkan mata diterjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.

Di pintu biara, Rahib ahli ‘ibadah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.


“Rahib yang suci”, kata si lelaki. Dia berhenti sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”

Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”

Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh”, katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”
Hampir saja gelas di tangan sang Rahib jatuh. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.

“Mungkinkah dosaku diampuni?”, lanjut si lelaki sambil menatap harap-harap. Tangannya cemas menggariki permukaan gelas logam. Dia lalu menunduk menanti sabda.

Tetapi Rahib itu memalingkan muka. Rautnya tampak tak suka. Lelaki itu menangkap mimik jijik di garis-garis wajah sang Rahib. Sayup dia menggumamkan sebuah ayat dalam Taurat. “Membunuh satu jiwa sama artinya membinasakan seluruh jiwa, memusnahkan segala kehidupan. Sembilanpuluh sembilan.. Sungguh dosa yang tak terperikan. Tak terampunkan.”

Entah mengapa si lelaki pembunuh tiba-tiba disergap benci yang bergulung-gulung pada si Rahib. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan mendengar gumam itu. Cara Rahib itu memperlakukannya, bersikap, berkata-kata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si Rahib suci. Tanpa dosa. Dan dia adalah lelaki hina, najis, tak terampuni.

Sekuncup harap yang tadi bersemi, kini gugur disengat api.

Maka sekali lagi syaithan mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si Rahib, membelahnya jadi dua. Dan dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah seratus nyawa. Darah sang Rahib yang mengalir merah terlihat bagai neraka menyala, siap membakarnya. Dia bergidik. Dia beringsut mundur. Nafasnya tersengal, jangganya terasa tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak, dia berlari. Terus berlari.

Untuk beberapa waktu, dia bersembunyi. Tapi dia tahu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak. Tak pernah mengizinkannya hening.

Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hatinya. Kali ini bukan rahib yang dipilihnya. Kali ini seorang ‘alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu itu menerimanya dengan senyum tulus.

“Allah itu Maha Pengampun saudaraku”, ujar sang ‘alim ramah. “Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikan-kebaikan, engkau juga harus meninggalkan negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Engkau harus berhijrah.”

Lelaki pembunuh itu, kita tahu, benar-benar berhijrah. Tapi dia mati di perjalanan. Dan malaikat rahmatpun memenangkan perdebatannya dengan malaikat ‘adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki itu sejengkal lebih dekat ke arah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatan, meski baru sejengkal. Maka Allah memerintahkan agar dia dibawa ke surga.

***

Kebaikan itu hanya menyembul sedikit, mengintip di balik terbunuhnya seratus nyawa. Seorang rahib memang ahli ‘ibadah. Tetapi dia bukan ahli ilmu. Dia tak kuasa mengenali kebaikan yang yang tersembunyi. Begitulah kita hari-hari ini, banyak terpesona dan dengan mudah menyebut seseorang sebagai, “Ustadz!” Padahal boleh jadi dia bukan ahli ilmu. Dia bisa saja ‘Abid, ahli ‘ibadah. Atau juga Khathib, seorang yang fasih bicara. Atau bisa juga Katib, seorang yang pandai menulis. Atau sejauh-jauhnya Hafizh, orang yang pintar menghafal.

Adapun ‘ulama, adalah mereka yang benar-benar mengenal Allah dan takut kepadaNya.

Seperti ‘alim yang menuntun sang pembunuh untuk bertaubat. Dia lelaki jernih yang penuh prasangka baik. Jika si rahib lebih tertekan oleh kata “membunuh”, sang ahli ilmu lebih terkesan oleh kata “taubat”. Kebaikan itu memang belum wujud, tapi dia memperlakukan sang pembunuh dengan penuh cinta, mempercayai yang terbaik dalam dirinya, dan menjadikan lelaki itu mampu menyongsong jalan surga.

Itulah ‘ulama. Dalam dekapan ukhuwah kita belajar dari mereka untuk takut kepada Allah dan tak mudah-mudah memvonis pada sesama hamba. Dalam dekapan ukhuwah kita belajar untuk mengenali kebaikan yang mengintip, mempercayainya, dan memberinya kesempatan untuk tampil mengemuka.

Memiliki akhlaq keulamaan ini bukan tak mudah. Kita hanya perlu memiliki perasaan sewajarnya bahwa kita sendiri juga manusia. Kita juga bisa khilaf dan alpa. Tak ada manusia suci yang tak punya masa lalu, dan tak ada insan jahat yang tak punya masa depan. “Dia yang tak mampu memaafkan kesalahan orang lain”, demikian dikatakan oleh George Herbert, “Telah menghancurkan jembatan yang seharusnya dia lalui sendiri.”

Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang, akan mengeluarkan yang terbaik dari mereka. Dalam dekapan ukhuwah, mari kita percayai asas itu. Dan mari kita perlakukan saudara-saudara tercinta kita dengan asas yang sama. Johann Wolfgang von Goethe, pemikir Jerman yang sangat mengagumi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam itu punya ungkapan yang menarik. “Perlakukan seseorang sebagaimana dia tampak saat ini”, tulisnya dalam Faust, “Dan kau akan menjadikannya lebih buruk. Namun jika kau memperlakukannya seolah dia telah menggapai potensinya dan mewujudkan citanya, kau akan menjadikannya sebagaimana dia yang seharusnya.”

Sungguh, setiap orang ingin hidupnya berarti. Semua orang ingin merasa dirinya penting dan punya makna. Kitapun demikian. Sebab itulah, dalam dekapan ukhuwah, asas ini berlaku untuk setiap orang, bahkan mereka yang tidak mempertunjukkannya. Mungkin saja, mereka sedang menunggu rangsang kecil dari kita untuk menjadi seseorang yang hebat. Mari bukakan kesempatan itu dengan mempercayai adanya kebaikan yang tersembunyi.

Sikap merasa lebih dan merasa suci jelas adalah lawan dari akhlaq keulamaan yang takut kepada Allah itu. Mereka yang merasa lebih, sulit mengenali kebajikan yang mengintip. Mereka dirabunkan oleh asap angan-angannya sendiri untuk menjadi lebih, padahal masih dalam khayalan.

Yang menggelikan adalah ketidakmampuan mereka untuk menghargai kebajikan yang mengintip biasanya diiringi kebanggaan atas apa yang tak mereka punya, dan keinginan dipuji atas apa yang belum mereka lakukan. Jika disebut kebaikan kecil yang dilakukan seseorang, mereka selalu memaparkan kebaikan yang lebih besar. Bukan untuk menjadikannya ‘ibrah apalagi ‘amal diri, sebab dirinya sendiri selalu berlindung di balik ‘udzur “syaratnya belum terpenuhi”. Semua dilakukannya hanya untuk menenggelamkan kebaikan kecil itu dan membuatnya seakan tak bernilai.

Semua manusia adalah anak-anak Adam yang menjadi tempatnya salah dan lupa. Maka orang suci sejati bukan yang tak berdosa, melainkan mereka yang banyak beristighfar kepada Allah. Mereka sering disergap rasa bersalah dan berdosa. Lalu dengan istighfar itu mereka merasakan ketenteraman dalam naungan ampunanNya. Maka mereka tumbuh menjadi pemaaf, sebab mereka juga tumbuh dalam pemaafan Allah. “Adapun mereka yang kurang beristighfar”, begitu ditulis Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Madaarijus Salikin, “Pastilah hatinya keras dan merasa suci. Dan itu membuat mereka mudah sakit hati, sulit menghargai, dan tak mampu memaafkan.”

Tentu saja kita boleh menambahi keterangan Ibnul Qayyim ini: mereka yang tak mampu mengenali kebaikan yang mengintip, bisa berakhir tragis seperti sang rahib dalam kisah kita di awal tulisan.

Maka mari kita belajar untuk menghargai kebaikan yang mengintip, atau mentakjubi keshalihan yang kecil dan sederhana. Membiasakan hal ini sungguh akan menjadi sebuah latihan jiwa yang berharga. Sebab ada tertulis, “Mereka yang tak bisa menghargai yang kecil, takkan mampu menghormati yang besar. Dan mereka yang tak bisa berterimakasih pada manusia, takkan mampu mensyukuri Allah.”

salim a. fillah
-www.safillah.co.cc-

Read More......

Kesendirian Yang Mengajarkan Segalanya..

4 Apr 2010

Bismillah…

“Insya Allah semuanya akan bisa terlewati. Hanya perjuangan dan kesabaran untuk ikhlas istiqomah di jalan-NYA yang akan mengantarkan kerja keras kita pada kemuliaan-NYA pula”

Kadang kesenderian membuat kita mencintai orang-orang yang pernah memberikan kita selaksa energi untuk berjuang.


Kesendirian pula, membuat kita semakin tegar memaknai proses Tarbiyah dari Allah. Bagaimana kita melewati hari dengan tumpukan tuntutan, melewati minggu dengan beribu penyesuaian. semua seperti nyanyian kehidupan yang sayang jika tak bisa di petik hikmahnya.

Kesendirian juga mengajarkan, bahwa orang-orang yang pernah bersama kita dulu, adalah sumber inspirasi selama mereka pernah meletakkan berjuta asa dan ilmu untuk kita rengkuh. Pelajaran hikmah untuk kita maknai.
Merekalah orang-orang berjiwa besar yang banyak memberi Inspirasi.

Kesendirianlah yang membuat kita belajar untuk berdiri kokoh setegar karang. Menerobos kuatnya badai dengan segudang semangat. Menguatkan jiwa dengan gelora iman yang membara. Kesendirianlah yang membuat kita terus melaju.. bertarung hingga kelelahan menjadi teman setia kita.

Kesendirian sejatinya melelahkan dan melemahkan. Namun, aku selalu percaya, dari setiap kelelahan selalu ada kebahagiaan, dari setiap kelemahan selalu menyimpan energi kekuatan yang tak tertandingi.

Kesendirian, membuatku belajar. Bagaimana memahami setiap pesan dari-Nya.. menisbahkan semua resah cukup untuk-Nya.. dan meletakkan semua harap agar selalu tertuju pada-Nya.. Kesendirianlah yang mengajarkanku semuanya..

Kesendirian, membuatku memahami, bagaimana menjaga semangat agar selalu tertata, menjaga hati agar kokoh hingga tergenapkan oleh-Nya.. menjaga diri agar panah syetan hanyalah sebuah buaian malam di siang yang terang.. Menjaga Jiwa agar selalu mengawasi keberadaan nafsu.. dan menjaga kemampuan agar selalu memberikan inspirasi bagi siapapun yang kita temui.

Kesendirian yang mengajarkannya..
Mengajarkan kita untuk bertahan…

Buat yang sedang rindu menanti
Segenggam tabah dipertahankan
Buat bekalan di perjalanan
Kau bebat luka yang berdarah
Kau balut hati yang calar

Telah tertulis suratan nasibmu
Derita buatmu ada hikmahnya
Terlukis senyum di bibir lesu
Tak siapa tahu hatimu
Biarpun keruh air di hulu
Mungkinkah jernih di muara
Biarpun jenuh hidup dipalu
Pasti bertemu tenangnya

In Team — Segenggam Tabah –

Taipei, 3 Februari 2010
– yang sedang rindu dengan Yogya –

~ Yusuf Al Bahi ~

Read More......

Pengorbanan Luar Biasa Mereka Yang Cinta Buku Dan Ilmu

29 Mar 2010


Ulama besar itu sedang jatuh sakit. Parah. Seluruh tubuhnya terasa payah. Persendiannya ngilu dan tulang-tulangnya kaku. Dia hanya bisa tergolek di atas tempat tidur, tak kuasa bergerak dan beranjak sedikit pun dari sana. Namun kondisinya yang sangat lemah itu, tak juga menyurutkan semangatnya untuk terus berbagi ilmu, membaca dan menelaah buku-buku, serta berdisukusi dengan murid-muridnya.

Dokter yang didatangkan untuk mengobatinya, pun begitu prihatin melihat keadaannya. Setelah memeriksanya, dokter itu berkata, “Aktifitas Anda yang banyak membaca dan berdisukusi tentang ilmu, telah membuat sakit Anda semakin berat.”


“Tapi, aku tidak bisa bersabar untuk melakukan itu. Akan aku buktikan sesuai dengan ilmu Anda. Bukankah jiwa itu jika bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan, maka perasaan itu akan mampu menyembuhkannya dari penyakit?” kilahnya dengan nafas sedikit tersengal.
“Tentu,” jawab sang dokter singkat.
“Jiwaku akan merasa senang jika ia bisa berinteraksi dengan ilmu,” tambahnya memberi alasan.

Tak brp lama, dengan tetap menuruti kata hatinya untuk terus membaca, ulama besar itu pun kembali sehat seperti sedia kala. Dia mengobati sakitnya dengan membaca. Melihat keadaannya yang membaik, dokter yang pernah merawat dan menasehatinya, hanya bisa berkata, “Ini di luar terapi yang biasa kami berikan.”

Ulama besar tersebut tak lain adalah Ibnu Taimiyah; sosok yang semasa hidupnya sangat lekat dengan kesederhanaan, kemiskinan, dan penjara, tetapi tetap ceria dan selalu bersahaja. “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih merasakan kenikmatan hidup dari pada Ibnu Taimiyah. Meskipun hidupnya dalam kesederhanaan, kemiskinan, tahanan dan di bawah ancaman, tetapi ia adalah orang yang paling lapang dadanya, sehingga wajahnya selalu terlihat berseri-seri,” tutur salah seorang muridnya, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, menceritakan tentang pribadinya.

Sederhana dan bersahaja mungkin sebuah sikap yang memang sangat lekat pada diri seorang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang lebih menarik dari sekadar itu, adalah semangat keilmuannya yang tinggi. Semangat telaah dan bacanya yang hebat, yang mampu meringankannya dari rasa sakit yang menimpanya. Sejak kecil semangat itu telah ada, dan tak pernah menyusut karena terpengaruh oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi. Dia tak pernah merasakan makanan enak dan lezat, dan hanya memakan apa adanya baik di pagi hari maupun malam hari. Dia juga tak pernah surut meski harus bersua dengan beragam cobaan dan siksaan. Ia hanya sibuk membaca dan mendalami banyak macam ilmu. Ia rajin belajar, menulis dan meriwayatkan hadits sehingga ia mampu menghimpun hadits-hadits yang tak dimiliki orang lain. Selain belajar, ia juga menyebarkan ilmunya. Ia mengajarkan hadits di beberapa daerah seperti Damaskus, Mesir dan Iskandaria. Meski di daerah-daerah itu ia menghadapi bermacam siksaan dan cobaan. Bahkan ketika di Damaskus lah, ia sempat ditahan dua kali hingga akhirnya wafat di sana tahun 728 H, di dalam penjara.

Ibnu Taimiyah seolah tenggelam dalam ilmu. Karena ilmu ia kemudian tidak menikah. Dan karena ilmu; semangatnya menelaah dan menulis, ia mampu menghasilkan lebih dari 500 jilid buku dari sekitar 350 judul, yang menyebar di mana-mana. Cintanya pada ilmu dan buku, lebih kuat dari cinta kita pada apapun yang sangat kita sukai. Dan mungkin dialah contoh yang ingindigambarkan Ibnu Qayim dalam sebuah ungkapannya, “Adapun para pecinta ilmu, mereka lebih terpesona dengan ilmu melebihi terpesonanya seorang laki-laki kepada kekasihnya. Dan kebanyakan diantara mereka tidak pernah disibukkan oleh seseorang (yang dicintainya) seperti mereka disibukkan dengan imu.”

Ibnu Rajab pun memuji sikapnya yang memilih membujang dari pada menikah. Dia berkata, “Inilah dampak positif dari membujang, yang akan terus bermanfaat bagi para penuntut ilmu dan para ulama sepanjang masa. Betapa banyak hasil karyanya yang tersebar di seluruh dunia Islam sejak zamannya hingga hari kiamat nanti, Insya Allah.”

Kecintaan pada ilmu dan sarana-sarananya; membaca, menulis, dan membelanjakan harta demi buku, adalah tradisi ulama kita yang telah ada sejak dulu. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu, dan tak pernah bosan untuk menimbanya. Salah seorang murid Ibnu taimiyah, Al-Hafidz Ibnu Abdul Hadi, pernah berkata, “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca, tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak penrah letih untuk terus menelaah dan mencari.”

Mereka, ketika bertemu dengan sebuah buku yang belum pernah mereka baca, seakan menemukan harta karun yang berharga. Ibnul Jauzi pernah bercerita tentang dirinya, “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.”

Suatu saat, dia juga pernah mengatakan, “Aku telah menyaksikan deretan kitab-kitab di Madrasah Nizhamiyah. Ternyata, kitab-kitab yang terpajang di sana mencapai 6 ribu jilid buku, diantaranya ada kitab-kitab Abu Hanifah, kitab-kitab Al-Humaidi, ada kitab-kitab dari guru kami Abdul Wahab bin Nashir, kitab-kitab Abu Muhammad Al Khasyib, dan banyak lagi yang lain, dan aku merasa bahwa sudah pernah membacanya. Kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid, tetapi aku masih terus mencari.”

Ulama kita adalah orang yang sangat mencintai buku, dan penuh semangat membacanya. Buku adalah barang mahal bagi mereka, yang selalu harus ada dan tersedia, dengan cara apapun mereka mendapatkannya. Muhammad bin Ya’kub Al-Fairuz Abadi, misalnya. Setiap kali bepergian ia selalu membawa bukunya. Ia selalu membaca dan berpikir. Terdorong oleh kecintaan yang begitu kuat, ia pernah membeli buku dengan emas seharga 50 dinar.

Sedang Al-Jahizh, salah seorang sastrawan ternama, setiap kali mendapatkan buku ia selalu membacanya dari awal hingga akhir. Ia sangat mencintai buku. Ia bahkan menyewa toko-toko buku dan menginap di sana untuk menelaah.

Ada lagi Abul ‘Ala Al-Hamadzani. Ketika kitab-kitab Ibnul Jawaliqi dilelang di kota Baghdad, saat itu ia turut hadir. Penjual menawarkan satu paket dengan harga 60 dinar. Abul ‘Ala pun membelinya dengan menangguhkan pembayaran hingga hari Kamis berikutnya. Tenyata, selang waktu itu dia gunakan untuk kembali ke kampung halamannya. Di sana ia jual rumah miliknya dengan harga 60 dinar untuk membayar harga buku tersebut. Kisah Abul ‘Ala sangat mirip dengan kisah Ibnu Najar yang menggadaikan rumahnya seharga 500 dinar untuk digunakan membeli buku.

Mereka melakukan itu, tentu karena mereka memandang bahwa buku dan ilmu itu jauh lebih berharga dari apa mereka keluarkan. Mereka lebih mencintai tumpukan buku dari pada tumpukan harta. Merekalah yang dikatakan Al-Jahiz dalam sebuah ungkapannya, “Orang yang kehabisan nafkah dan harta benda yang dia keluarkan untuk mendapatkan buku yang dia inginkan, lebih dia sukai dari pada membeli seorang budak perempuan yang cantik, memperturutkan syahwatnya membuat bangunan mewah, maka dia tak akan mendapatkan ilmu yang memberi kepuasan, dan harta yang diinfakkannya tak akan bermanfaat untuknya sampai dia mengutamakan membelanjakannya untuk buku-buku, seperti seorang badui yang lebih memprioritaskan susu kudanya untuk keluarganya, atau sampai mengharapkan sesuatu dari ilmunya seperti seorang badui yang mengharpkan sesuatu dari kudanya.”

Para pecinta ilmu selalu menemukan kepuasan dalam bacaan-bacaan mereka. Jiwa mereka terasa ringan dan dada mereka terasa lapang, manakala bertemu buku dan punya kesempatan untuk membacannya.

Salman Al-Hambali, salah seorang guru Ibnu Hajar Al-Asqalani, mengatakan, “Tidur siang yang engkau tinggalkan untuk bisa membaca buku, yang tidak mendatangkan harta untukmu, maka katakanlah, “Biarkan aku (melakukan ini), semoga ku dapat menemukan buku yang bisa menunjukkan kepadaku bagaimana aku mendapatkan buku (catatan amal)ku dengan aman dan dengan tangan kanan.”

Seorang syaikh pernah berkata, “Aku ingat, suatu kali aku membeli buku di kota Riyadh setelah itu aku berjalan ke arah timur. Tapi rasanya aku tak dapat meneruskan perjalananku karena ketertarikanku yang sangat pada buku itu. tidak ada yang bisa kulakukan kecuali berhenti di jalan lalu buku itu aku baca hingga selesai seluruhnya, setelah itu barulah perjalanan aku lanjutkan.”

Dengan membaca buku mereka merasa memiliki semangat untuk terus hidup. Membaca adalah sarana menyambung nafas untuk mempertahankan eksistensi diri mereka. Sangat benar apa yang dikatakan seorang diantara mereka, “bacalah, agar engkau bisa hidup.”

Inilah potensi besar yang sebenarnya pernah ada dalam tubuh umat ini. Dulu, umat ini pernah berjaya oleh karena kecintaan mereka yang kuat terhadap ilmu. Budaya membaca dan menuntut ilmu di kalangan para ulama sangat menakjubkan. Mereka sudah bisa berdiri dengan tegak dengan segenap cahaya, saat umat lainnya masih diliputi kegelapan. Potret kehidupan mereka perlu menjadi teladan untuk kehidupan kita masa kini; mengorbankan harta u. ditukar dengan buku dan ilmu pengetahuan.

Membaca adalah kata yang menunjukkan permulaan wahyu, dan penanda lahirnya kenabian pada diri Rasulullah SAW yang menjadi penerang bagi manusia dan segenap alam. Membaca adalah titik balik paling fundamental pada perubahan sejarah kemanusiaan dari kekufuran dan kesesatan mereka, meunju cahaya iman, tauhid dan hidayah; juga dari tradisi suram kepada nilai-nilai moral, akhlak dan etika; dari kebutaan hati kepada penglihatan yang berdasarkan iman. Para pendahulu kita sangat memahami itu, dan karena itulah mereka terus membaca dan tak pernah bosan melakukannya. Mereka memiliki tradisi itu dalam kehidupan mereka dan berusaha mewariskannya kepada generasi setelah mereka.

Namun tampaknya, tradisi yang baik itu kini seakan tidak terlalu mendapatkan perhatian. Bukan hanya oleh orang-orang awam, tetapi kita dan mereka yang hidupnya sangat dekat sarana-sarana ilmu dan profesi-profesi keilmuan, juga tak terlalu mempedulikan buku, dan membacanya. Seorang syaikh berkata, “Kalau kita perhatikan para mahasiswa kita hari ini, mereka terlihat jarang membaca. Padahal sesungguhnya mereka baru memulai belajar. Aneh. Sungguh aneh. Mereka seperti merasa telah memiliki banyak ilmu. Padahal Ibnu Jauzi menasehatkan, ‘Hal yang paling baik adalah berbekal dengan ilmu. Siapa yang merasa cukup dengan ilmu yang dia miliki dan puas dengannya sehingga tidak mau mendengar pendapat orang lain, kemudian terlalu membesarkan dirinya, maka dia akan terhalang dari memperoleh manfaat. Dengan terus membaca dan belajar, akan tampaklah kesalahannya.’”

Seringkali, setelah kita menyelesaikan satu jenjang pendidikan, terkadang ada bisikan dalam hati yang mengatakan bahwa kita telah melewati fase belajar, dan karena itu tak perlu lagi membaca. Kita bahkan kerap merasa diri sudah cukup berilmu. Kita lupa, atau sengaja melupakan keadaan ulama kita dalam berinteraksi dengan ilmu, yang tidak pernah berhenti hingga ajal menjemputnya.

Ada kemalasan yang sering muncul karena kita tak menemukan kenikmatan dalam membaca. Membaca tidak menyentuh jiwa kita, sebagaimana dirasakan para ulama, di mana bagi mereka membaca adalah alat pemuas jiwa.

Secara umum, mungkin kita memang sangat jarang membaca. Tradisi keilmuan kita sangat jauh berbeda dengan para pendahulu kita; salafusshalih dan pengikut mereka. Tetapi tidak berarti bahwa semua kita benar-benar menjauhi buku. Di tengah-tengah kita, masih banyak orang-orang yang dengan kebersahajaan dan kesederhanaannya tak pernah lepas dari buku. Selalu rajin membaca, kapan pun dan dimana saja. [Sulthan Hadi, sumber: Majalah Tarbawi edisi 224]

Read More......

Inspiring Soul

23 Mar 2010


When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
just remember no matter where you are
Allah knows, Allah knows...

When you're carrying a monster load
And you wonder how far yaou can go
With every step on that road you take
Allah knows, Allah knows...

(Cause) No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows, Allah knows...


And whatever lies in the heavens and the Earth
Every star in this whole universe
Allah knows, Allah knows...

When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon shout it to everyone
Allah knows, Allah knows...

When you gaze with love in your eyes
Catch your glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows, Allah knows...

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows, Allah knows...

See we all have a path to choose
through the valleys and we go
with the ups and hills we go
With the ups and the downs never fret never frown
Allah knows, Allah knows...

Every grain of sands in every desert plants
He knows...
Every sheet of palm, every closed hand
He knows...
Every sparkling tear on every eye lash
He knows...
Every thought I had and every word I share
He knows...
Allah knows...

Read More......

Untuk Saudaraku

5 Mar 2010


mintalah nasehat pada hatimu lalu turuti dan laksanakan.
jadikan itu urusanmu dengan hatimu dan dengan Yang Maha membolak-balikan hati.
itu yang terbaik untuk mu.
Insya Allah

dan tetaplah kamu dalam kesabaran yang tiada batasnya dalam mengajarkan kebenaran.
karena kamu adalah ummat terbaik, yang senantiasa di ridhoi-Nya,
menjadikan syukur dan sabar sebagai tunggangan
ketahuilah…
ada balasan berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai dan kehidupan yang kekal lagi abadi dalam naungan cinta-Nya


ya Allah, jika sujudku pada-Mu karena takut akan neraka, maka bakarlah diriku
ya Allah, jika sujudku pada-Mu karena mengharapkan surga, maka tutuplah pintu surga itu
tetapi ya Allah, jika sujudku pada-Mu hanya karena berharap ridho-Mu, maka jangan palingkan wajah-Mu dariku

…didedikasikan untuk saudaraku yang selalu menguatkan diriku dan selalu percaya bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang baik untuk dakwah ini….

Read More......
 
 
 

KUNJUNGAN

free counters
Powered By Blogger

detiknews - detiknews

JARINGAN

 
Copyright © KAMUS BABEL