Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Pembelajaran yang Dipercepat?: The Learning Revolution Part 2

11 Apr 2010

”Musik mengurangi tekanan dan ancaman (stres), meredakan ketegangan, meningkatkan gairah dan semangat (energi), dan memperbesar daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas.”
Dr. Jeannette Vos

Adalah Dr. Georgi Lozanov yang dianggap sebagai salah seorang tokoh yang kemudian memunculkan apa yang disebut sebagai accelerated learning. Dr. Lozanov, seorang pendidik asal Bulgaria, mencetuskan dua hal penting yang menjadi basis penyelenggaran accelerated learning. Pertama, sugesti; dan kedua, musik. Secara bahasa, sugesti bisa berarti “dorongan” atau “pengaruh yang dapat menggerakkan hati”. Dalam konteks pendidikan, sugesti yang diperlukan jelas sugesti positif.


Praktik sugesti positif mudah sekali dijalankan. Dengan menggunakan kata-kata yang membangkitkan harapan, semangat, dan pemberdayaan (bukan pelemahan)—yang secara sangat khusus ditujukan kepada diri kita—kita sudah dapat menjalankan sugesti positif tersebut. Saya juga kadang menganggap sebuah doa identik dengan sugesti positif—apalagi doa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Jadi, misalnya saja ada seorang anak yang ingin belajar matematika dan sugesti positif ingin digunakan di situ, kita kemudian dapat membantu anak tersebut agar mendapatkan ”bahasa” untuk otaknya bahwa dia mampu belajar matematika dan akan berhasil dalam pembelajarannya.

Dr. Georgi Lozanov

Akhirnya, memang, yang menentukan keberhasilan bukan sugesti tetapi aksi. Sugesti hanya menyiapkan ”jalan” menuju keberhasilan. Yang meraih keberhasilan adalah tindakan orang yang tersugesti. Namun, bayangkan sebuah keadaan yang seperti ini: Ada seorang anak yang ingin belajar matematika. Dia mendengar dari lingkungannya bahwa matematika itu sulit. Ke mana pun dia melangkah, dia senantiasa mendengar tentang sulitnya belajar matematika. Bahkan, kadang ada yang menambahi bahwa guru-guru matematika galak-galak dan angker serta serem-serem. ”Bahasa” (negatif) itu terus menyerang pikirannya. Bisa jadi yang didengar oleh sang anak nyata, tetapi kenyataan dalam bentuk ”bahasa” itu—apalagi yang negatif—efeknya luar biasa bagi kerja otak. Dan, ada kemungkinan, ketika melakukan tindakan nyata (belajar matematika), dalam pikiran si anak senantiasa muncul segala macam ketakutan dan ketakberdayaan—otak benar-benar menjadi melempem.

Nah, temuan Dr. Lozanov tentang pentingnya sugesti positif itu mengubah kegiatan pembelajaran yang menekan itu secara radikal. Menurut kabar, sugesti positif dapat membuat seorang anak percaya diri dan melejitkan potensinya—dalam bidang apa pun. Saya kemudian bersegera mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Di kantong atau dompet, saya senantiasa menyimpan ”bahasa” yang saya tulis khusus untuk saya baca ketika saya ingin menghadapi sebuah kegiatan—misalnya menjadi narasumber dalam sebuah seminar atau instruktur dalam sebuah pelatihan menulis. Saya mensugesti positif diri saya bahwa saya bisa! Kini, setelah bertahun-tahun mempraktikkan membaca sugesti positif itu, saya merasakan kemampuan berbicara di depan publik dan melatih orang untuk memiliki kemampuan—terutama semangat menulis—menjadi meningkat sangat pesat. Saya mengalami accelerated learning!

Menurut Quantum Learning, sugesti positif juga dapat diciptakan dalam bentuk hal-hal seperti berikut ini: mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan wah sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih dengan sangat baik dalam seni pengajaran sugestif. Yang terakhir ini, menurut saya, sunguh sangat penting dan menentukan sekali sukses-tidaknya sebuah kegiatan belajar-mengajar. Guru selayaknya memang tidak hanya bertugas memberikan ”what”, tetapi—lebih dari itu—dia harus dapat mensugesti-positif murid-muridnya sehingga para murid itu dapat melanjutkan pembelajarannya di rumah dan di alam yang sangat luas.

Sugesti positif—sebagaimana ditemukan Dr. Lozanov—memang sudah mengubah kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah. Sudahkah Anda ikut terlibat dalam perubahan pembelajaran yang revolusioner tersebut?[]

Read More......

Sensasi-Baru Membaca Buku?: The Learning Revolution Part 1

Ketika membaca buku Dryden dan Vos, The Learning Revolution, saya diberi cara baru membaca. Buku ini ketebalannya mencapi 500 halaman lebih. Namun, buku ini memberikan iming-iming kepada saya untuk melakukan kegiatan membaca—tentu disertai pemahaman dan juga mengingat apa yang dipahami—dalam tempo hanya 30 (tiga puluh) menit! Bahkan, bagi yang sudah terlatih, waktu membaca yang 30 menit itu dapat diperpendek menjadi hanya 15 menit! Sebuah buku menawarkan kegiatan membaca yang ajaib? Ya dan saya pun sangat tertarik dengan iming-iming itu dan, akhirnya, menyempatkan diri untuk mengalaminya.

Jauh sebelum buku itu saya baca, saya sebenarnya sudah mengalami kegiatan membaca dalam bentuk yang baru sebagaimana yang ditawarkan oleh buku The Learning Revolution.


Buku yang membuat saya merasakan sensasi baru membaca itu berjudul Quantum Learning. Tidak seperti janji ajaib yang ada di The Learning Revolution, buku Quantum Learning hanya memberitahu kepada saya bahwa penyajian buku dipola secara khusus untuk mengikuti cara bekerjanya dua belahan otak—belahan otak kiri dan kanan. Halaman kiri Quantum Learning memang hanya diisi oleh full teks dan halaman kanannya diisi oleh gambar atau kata-kata dengan huruf yang sedikit tapi disajikan untuk membangkitkan semangat.

Penampilan dan penyajian ”content” The Learning Revolution tidak berbeda dengan Quantum Learning—halaman kiri dan kanan tetap disajikan secara berbeda. Hanya, apa yang ditampilkan oleh Quantum Learning dibalik oleh The Learning Revolution. Dalam The Learning Revolution, halaman kiri diisi gambar atau poster dan halaman kanan diisi teks secara penuh. Halaman yang berbeda tersebut terdapat di hamnpir seluruh halaman. Perbedaan lain yang dimiliki oleh The Learning Revolution dan tak dimiliki Quantum Learning adalah ia melengkapi pembaca dengan beberapa alat bantu membaca. Alat bantu yang sangat memberikan manfaat itu bernama “mindmapping”. Buku The Learning Revolution juga menyertakan petunjuk praktis bagaimana mengoperasikan “mindmapping” untuk kegiatan membaca—khususnya mengingat.

Bagi saya, membaca kedua buku ini bagaikan membaca perubahan-perubahan dahsyat yang terjadi di dunia pendidikan. Kedua buku itu berhasil merekam dan menyajikan perubahan di dunia pendidikan itu tidak saja secara atraktif tetapi juga “sexy” (menggoda). Apa perubahan-perubahan utama yang disajikan oleh kedua buku tersebut? “Cara”, ya cara menjalankan kegiatan mengajar dan belajar yang kadang radikal. Saya tidak hanya—secara praktis—diberi pengalaman dan cara baru membaca buku, tetapi juga cara baru belajar yang membuat saya nyaman dan “happy”.

Saya kemudian merasa yakin sekali bahwa cara-cara baru belajar yang dipaparkan oleh kedua buku itu bukan “akal-akalan” atau tipuan atau sulapan setelah saya selesai membaca buku karya Colin Rose, M.A.S.T.E.R It FASTER. Dalam buku ini, saya membaca hal berikut ini dengan sangat bergairah, “Masalahnya…. kita lebih sering diajari apa (what), tetapi tidak bagaimana (how). Padahal, belajar cepat dan berpikir jernih adalah keterampilan yang sama-sama dapat dipelajari dan diajarkan. Keduanya adalah keterampilan yang akan meningkatkan ‘nilai’ dan ‘kelayakan kerja’ Anda dalam dunia kerja yang cepat berubah seperti sekarang ini.”

Terus terang ketika membaca kata-kata Rose dan kemudian membayangkan pengalaman membaca The Learning Revolution dan Quantum Learning, saya seperti tersentak dan sadar bahwa—ketika di sekolah dulu—sepertinya saya hanya dijejali what dan sangat kurang diberi tuntunan perihal how. Mungkin ada sih, tetapi rasa-rasanya, how itu hanya berbentuk semacam peraturan yang kadang malah membuat saya tidak dapat bergerak secara bebas. Cara-cara yang diberikan oleh kedua buku itu benar-benar membuka cakrwala baru bagi saya untuk kemudian bersegara mengubah diri saya.

Jadi, sudahkah Anda mengalami sensasi baru membaca?[]

Read More......

Urgensi Al-Qudwah di Jalan Dakwah

7 Apr 2010

Judul Buku : Urgensi Al-Qudwah di Jalan Dakwah; Mega Proyek Menuju Realisasi Cita-cita Dakwah
Judul Asli : Al-Qudwatu ala Thariqi Ad-Da'wati
Penulis : Syaikh Musthafa Masyhur
Penerjemah : Fadhli Bahri, Lc
Penerbit : An-Nadwah
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Desember 2009
Tebal Buku : 226 halaman

Kita sedang meletakkan pondasi kokoh untuk bangunan besar yang merupakan mega proyek dakwah. Peletakan dasar pondasi setiap bangunan adalah tahapan paling krusial dan sulit dalam proses pembangunan sebuah bangunan. Sedangkan bangunan yang hendak dibangun itu adalah daulah islamiyah, khilafah islamiyah.


Tetapi kita tidak menginginkan daulah atau khilafah yang sekedar simbol tanpa substansi. Juga bukan daulah atau khilafah rapuh yang sekali berdiri kemudian dengan mudah dirobohkan kembali, diporakporandakan musuh-musuh Islam.

Daulah dan khilafah itu haruslah islamiyah, dengan segala makna yang ada pada kata Islam. Itu berarti sebuah tata dunia baru yang rahmatan lil 'alamin. Itu berarti peradaban yang kuat untuk mempertahankan eksistensinya dari segala upaya destruktif yang hendak menghancurkannya. Karenanya, ia harus dibangun dari individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintahan yang sehat, kokoh dan tangguh.

Berangkat dari pemikiran inilah, maka qudwah (teladan) di jalan dakwah menjadi sangat urgen. Untuk peletakan pondasi itu kita membutuhkan individu muslim teladan, rumah tangga muslim teladan dan masyarakat muslim teladan sehingga pemerintahan Islam teladan berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh, kemudian meluas di level seluruh umat Islam. Setelah itu, berdirilah pemerintahan-pemerintahan Islam yang bersedia masuk dalam perdamaian dengan pemerintahan Islam lain seperti dirinya dalam rangka membentuk Daulah Islamiyah.

Dalam konteks proses dakwah seperti di atas, buku Urgensi Al-Qudwah di Jalan Dakwah ini menjadi referensi yang sangat penting. Bukan hanya bagi aktifis dakwah, tetapi juga bagi gerakan dakwah. Di dalam buku Urgensi Al-Qudwah di Jalan Dakwah ini dijelaskan bagaimana karakter kader dakwah muslim teladan, keluarga muslim teladan, suami dan ayah muslim teladan, istri dan ibu muslim teladan, kader murabbi teladan, sampai jama'ah Islam teladan.

Syaikh Musthafa Masyhur juga menjelaskan berbagai profesi agar menjadi teladan. Diantaranya adalah guru/dosen muslim teladan, wartawan muslim teladan, penulis muslim teladan, dokter muslim teladan, praktisi hukum muslim teladan, pedagang teladan, dan karyawan teladan.

Sebelum menjelaskan karakter-karakter teladan pada tiap subyek di atas, Syaikh Musthafa Masyhur mengawali bukunya dengan "teori keteladanan." Bahwa manusia yang diberi nikmat indra dan akal oleh Allah SWT bisa mendapatkan petunjuk dan keteladanan. Dan, umunya setiap dakwah dan seruan akan lebih efektif ketika ada keteladanan aplikatif. (qudwah amaliyah).

Teori lain yang ditulis di awal adalah kebiasaan orang lemah meniru orang kuat. Teori ini sejalan dengan teorinya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Sepeti anak kecil yang meniru orang dewasa, demikianlah orang yang lemah pendirian akan meniru orang-orang kuat; sama halnya negara-negara lemah dan terjajah meniru negara-negara besar dan maju. Ketika yang dapat ditangkap oleh orang-orang berjiwa lemah itu adalah keburukan saja, maka mereka akan mengikuti keburukan. Namun saat mereka melihat keteladanan positif dari orang-orang kuat dan pejuang dakwah, itu pun akan mempengaruhi kehidupannya. Dan di sinilah letak pentingnya keteladanan.

Merupakan nikmat dari Allah dalam pandangan Syaikh Musthafa Masyhur, bahwa kondisi umat Islam saat buku ini ditulis sudah lebih baik dari beberapa waktu sebelumnya. Dan ini adalah buah dari dakwah dan keteladanan. Dai-dai Islam, seperti Hasan Al-Banna, Abul A'la Al-Maududi, dan tokoh-tokoh lain serta gerakan-gerakan Islam telah memberikan keteladanannya dalam jalan dakwah, dan hasilnya bisa dirasakan umat ini. Meneladani jejak Rasulullah SAW, seharusnya setiap kader dan jama'ah dakwah menjadi teladan bagi mad'u-nya, menjadi teladan bagi umat yang didakwahinya.

Buku Urgensi Al-Qudwah di Jalan Dakwah ini penting dibaca kader dakwah. Karena, sekali lagi, bukan hanya menjelaskan urgensi qudwah (keteladanan) tetapi juga bagaimana mengaplikasikannya. Ia menjadi karya berharga dari seorang ulama dakwah yang kaya akan pengalaman di medan perjuangan. Semoga kita dimudahkan Allah menjadi muslim teladan dan bersama-sama mengokohkan jama'ah Islam teladan. [Muchlisin]

Read More......

10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an

6 Apr 2010

Judul Buku : 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an
Penulis : Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing, Bandung
Cetakan Ke : 2
Tahun Terbit : Januari 2010
Tebal Buku : xiv + 150 halaman

Setiap orang tua muslim pasti ingin memiliki anak-anak yang hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Apalagi para kader dakwah yang sangat menyadari bahwa keluarga merupakan sasaran dakwah yang kedua; ishlahul usrah, setelah ishlahul fardi. Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini merupakan sebuah karya yang –seperti kata Ustadz Yusuf Mansur- akan menginspirasi banyak keluarga di tanah air. Ternyata membesarkan anak di masa sekarang untuk menjadi hafiz Al-Qur'an bukan sesuatu yang mustahil.


Buku ini adalah kisah nyata sebuah keluarga muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur'an dan berprestasi. Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula dan Wirianingsih beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktifitas dakwahnya. Mutammimul Ula adalah anggota DPR RI dari fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Staf Departemen Kaderisasi DPP PKS sekaligus Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 propinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu adalah :


1. Afzalurahman Assalam
2. Faris Jihady Hanifa
3. Maryam Qonitat
4. Scientia Afifah Taibah
5. Ahmad Rasikh 'Ilmi
6. Ismail Ghulam Halim
7. Yusuf Zaim Hakim
8. Muhammad Syaihul Basyir
9. Hadi Sabila Rosyad
10. Himmaty Muyassarah


Afzalurahman Assalam

Putra pertama. Hafal Al-Qur'an pada usia 13 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.


Faris Jihady Hanifa

Putra kedua. Hafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat buku ini ditulis usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur'an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.


Maryam Qonitat

Putri ketiga. Hafal Al-Qur'an sejak usia 16 tahun. Saat buku ini ditulis usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.


Scientia Afifah Taibah

Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur'an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.


Ahmad Rasikh 'Ilmi

Putra kelima. Saat buku ini ditulis hafal 15 juz Al-Qur'an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.


Ismail Ghulam Halim

Putra keenam. Saat buku ini ditulis hafal 13 juz Al-Qur'an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.


Yusuf Zaim Hakim

Putra ketujuh. Saat buku ini ditulis ia hafal 9 juz Al-Qur'an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.


Muhammad Syaihul Basyir

Putra kedelapan. Saat buku ini ia duduk di MTs Darul Qur'an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur'an 30 juz pada saat kelas 6 SD.


Hadi Sabila Rosyad

Putra kesembilan. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.


Himmaty Muyassarah

Putri kesepuluh. Saat buku ini ditulis ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur'an.

Dilengkapi Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman dan Fadhilah Menghafal Al-Qur'an
Buku 10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an ini tidak hanya berisi bagaimana putra-putri Mutammimul Ula dan Wirianingsih menjadi penghafal Al-Qur'an. Di bagian pendahuluan terlebih dahulu dibahas Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al-Qur'an sampai Akhir Zaman. Meliputi pembagian Al-Qur'an, Al-Qur'an sebagai Mukjizat, Sejarah Turunnya Al-Qur'an Kodifikasi Al-Qur'an, sampai Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al-Qur'an.

Pada bab 5 juga dibahas mengapa menjadi hafiz Al-Qur'an begitu penting. Penulis mengklasifikasikannya menjadi 2 bagian: fadhail dunia dan fadhail akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifdzul Qur'an merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Qur'an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), keluarga Allah di muka bumi. Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur'an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orangtuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.

Apa Kuncinya?
Apa kunci sukses keluarga Mutammimul Ula dan Wirianingsih mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an itu? Keseimbangan proses. Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib adalah jadwal mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Beberapa hal yang mendukung kesuksesan ini adalah upaya mereka menjaga kondisi ruhiyah dalam keluarga:
1. Tidak ada televisi di dalam rumah
2. Tidak ada gambar syubhat
3. Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan nasyid
4. Tidak ada perkataan yang fashiyah (kotor)

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an adalah visi dan konsep yang jelas, yakni menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur'an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah Shubuh dan setelah Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur'an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur'an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun kebanyakan di waktu kecil mereka merasa terpaksan, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur'an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur'an, mereka diberi hadiah.

Metode Menghafal Al-Qur'an 10 bersaudara bintang Al-Qur'an
Pada bab penutup penulis memaparkan metode yang dipilih keluarga Mutammimul Ula dalam mendidik 10 bersaudara bintang Al-Qur'an: pertama, mengajarkan membaca. Kedua, repetisi (pengulangan). Ketiga, memilihkan mereka sekolah yang memiliki program utama menghafal Al-Qur'an. Secara khusus kedua orang tua juga senantiasa menjaga orientasi hafalan mereka. Keempat, saat menginjak usia remaja mereka dipahamkan tentang fadhilah membaca Al-Qur'an. Kelima, kedua orang tua menjadi teladan yang nyaris sempurna dalam dakwah, pemikiran Islam, orientasi tentang keluarga Al-Qur'an, dan senantiasa mendoakan mereka sepanjang waktu hidupnya.

Akhirnya, bagi keluarga muslim, terutama keluarga dakwah, kiranya buku 10 bersaudara bintang Al-Qur'an ini sangat penting untuk menginspirasi berikut menjadi referensi lahirnya bintang-bintang Al-Qur'an yang baru. [Muchlisin]

Read More......
 
 
 

KUNJUNGAN

free counters
Powered By Blogger

detiknews - detiknews

JARINGAN

 
Copyright © KAMUS BABEL