Inspiring Soul

23 Mar 2010


When you feel all alone in this world
And there's nobody to count your tears
just remember no matter where you are
Allah knows, Allah knows...

When you're carrying a monster load
And you wonder how far yaou can go
With every step on that road you take
Allah knows, Allah knows...

(Cause) No matter what, inside or out
There's one thing of which there's no doubt
Allah knows, Allah knows...


And whatever lies in the heavens and the Earth
Every star in this whole universe
Allah knows, Allah knows...

When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon shout it to everyone
Allah knows, Allah knows...

When you gaze with love in your eyes
Catch your glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows, Allah knows...

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows, Allah knows...

See we all have a path to choose
through the valleys and we go
with the ups and hills we go
With the ups and the downs never fret never frown
Allah knows, Allah knows...

Every grain of sands in every desert plants
He knows...
Every sheet of palm, every closed hand
He knows...
Every sparkling tear on every eye lash
He knows...
Every thought I had and every word I share
He knows...
Allah knows...

Read More......

Mimpi - Mimpi Besar

22 Mar 2010


Letakkan telapak tangan kita di atas dahi. Berusaha merenung dan konsentrasi berpikir. Bertanya pada diri sendiri: "Apa mimpi yang ingin kita raih dalam hidup ini? Apa obsesi yang begitu menyibukkan kita dalam hidup ini? Apa yang kita pikirkan siang dan malam? Apakah yang kita pikirkan itu sifatnya duniawi? Atau ukhrawi? Apakah obsesi dan mimpi kita itu sifatnya umum, atau spesifik?

Saudaraku,
Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu dan simpanlah baik-baik dalam ingatan. Panggillah anak dan tanyakanlah, "Apa kondisi yang ia inginkan di masa mendatang?"


Bandingkan antara apa yang menjadi keinginan mereka dan keinginan kita di masa depan. Hampir pasti anak-anak akan menjawab keinginan itu secara ideal, tinggi, bahkan mungkin ada yang tidak mungkin diwujudkan. Sedangkan obsesi dan keinginan kita umumnya lebih rendah, tidak terlalu tinggi, dan pandangan yang terbatas. Bahkan, boleh jadi ada sebagian kita merasa berat sekedar berobsesi atau bermimpi dan menginginkan sesuatu yang tinggi serta ideal.

Saudaraku,
Kita, hidup di zaman yang penuh kelemahan. Wajar bila obsesi serta mimpi kita dan masyarakat kita pun menjadi rendah, kurang berbobot, tujuannya pendek. Kita semua sama dalam hal ini. Sebabnya banyak, tapi setidaknya ada sebab penting yang harus kita sadari. Yakni, minim atau tidak adanya "contoh ideal" yang hidup diantara kita. Termasuk contoh dari para orang tua kita, atau kita para bapak dan ibu bagi anak-anak, para pendidik, para guru, para pejabat, para tokoh dan sebagainya. Minim atau tidak adanya figur atau contoh itu, mau tidak mau turut menciptakan lemahnya motivasi kita, untuk memiliki cita-cita atau keinginan yang tinggi. Seperti yang kita alami sekarang ini.

Mari kita perhatikan bagaimana kondisi orang-orang yang memiliki mimpi-mimpi besar. Barangkali kondisi mereka bisa mendorong dan menumbangkan penghalang mimpi yang kini sedang mengepung kita. Barangkali keadaan mereka bisa mengeluarkan kita dari mimpi kecil menjadi mimpi besar. Barangkali peran-peran mereka bisa menjadikan kita memiliki peran-peran yang lebih luas dari sekarang.

Saudaraku,
Adalah Hindun binti Utbah Ummu Mu'awiyah bin Abi Sufyan, seorang wanita yang termasuk memiliki mimpi besar itu. Suatu ketika, saat ia berada di Mina bersama puteranya Mu'awiyah yang baru saja tersandung batu dan terjatuh di atas tanah. Hindun berkata pada anaknya, Mu'awiyah, "Bangunlah, bila engkau biasa bangkit maka engkau akan ditinggikan derajatnya oleh Allah." Seorang yang mendengarkan perkataan ini bertanya, "Mengapa engkau mengatakan seperti itu? Saya yakin bahwa dia (Mu'awiyah) akan memimpin kaumnya." Hindun balik bertanya, "Kaumnya? Allah tidak meninggikan kedudukannya kecuali bila ia memimpin bangsa Arab semuanya."

Ini episode kecil tentang bagaimana mimpi besar seorang ibu. Ia ingin anaknya menjadi pemimpin bangsa Arab semuanya. Dan mimpi itulah yang hadir di pelupuk matanya, dan mimpi itulah yang menjadi panduannya sehari-hari dalam mendidik anaknya. Ia terus menanamkan mimpi itu pada anaknya, dan meyakinkannya. Ia kondisikan keadaannya untuk mencapai mimpi itu. Ia beri asupan apa yang bisa membekalinya mewujudkan mimpinya. Hingga akhirnya, Mu'awiyah memang menjadi khalifah pertama dari khulafa daulah umawiyah. Mu'awiyah memimpin bangsa Arab sekaligus umat Islam selama kurang lebih 20 tahun yakni tahun 661 H – 680 H.

Saudaraku,
Ada kisah lain di zaman kita, tentang ibu dari DR. Ahmd Zewail, yang juga memiliki mimpi besar. Sejak Ahmed masih kecil, sang ibu sudah menuliskan di pintu kamar Ahmad sebuah kalimat "Kamar DR. Ahmed Zewail." Apa yang dituliskannya itu, tak lain merupakan saluran keinginan atau mimpi yang ada dalam diri sang ibu. Dan tampaknya, pesan itu telah sampai dalam diri anaknya. Ahmed Zewail meraih penghargaan Nobel bidang Kimia tahun 1999, dan menjadi salah satu ilmuwan besar dunia. Zewail sendiri mengakui pengaruh motivasi dan mimpi ibunya itu pada dirinya. Tentu bukan hal mudah bagi seorang ibu untuk bisa mewujudkan mimpi besar itu pada Zewail. Karena hari-hari merawat, mendidik dan membesarkan Zewail-lah yang juga menjadi kunci keberhasilan Zewail.

Saudaraku,
Lagi, tentang bagaimana seorang ibu dari Syaikh Abdurrahman As-Sudais yang kini menjadi imam masjidil Haram. Bagaimana sang ibu menanamkan dan mengarahkan mimpi besarnya itu kepada anaknya. Bagaimana sang ibu dalam hari demi hari bersama As-Sudais kecil itu mengingatkannya untuk bisa mencapai mimpinya? Ibunya sering mengingatkan, "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram..." "Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram..." Wahai Abdurrahman, jangan malas menghafal kembali hafalan harianmu, bagaimana kamu bisa menjadi Imam Masjidil Haram bila kamu malas? Akhirnya, Syaikh Abdurrahman As-Sudais kini menjadi imam Masjidil Haram. Dan menjadi salah satu ulama besar yang disegani di dunia Islam.

Saudaraku,
Satu kisah lain yang boleh jadi kita sudah pernah mendengarnya. Seorang sahabat, Rabi'ah bin Kaab Al-Aslami radhiallahu anhu. Dialah yang mengatakan kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah SAW, aku ingin menjadi pendampingmu di surga." Rasulullah SAW mengatakan, "Adakah selain itu ya Rabi'ah?" Rabi'ah menjawab, "Hanya itu ya rasulullah." Lalu Rasulullah SAW mengatakan, "Jika begitu, bantulah aku untuk mencapai keingnanmu itu dengan memperbanyak sujud." (HR. Muslim)

Diriwayatkan, Rabi'ah atas bimbingan orangtuanya, sejak kecil memang sudah kerap kali terlihat dalam kondisi shalat dan sujud. Dan sepanjang usianya, Rabi'ah diriwayatkan tak pernah tertinggal shalat berjamaah. Mengapa Rabi'ah mampu melakukan semua itu? Karena ia ingin meraih mimpinya yang besar tadi. Mimpi ingin menjadi pendamping Rasulullah SAW di surge...

Saudaraku, bandingkanlah antara keinginan kita yang tercetus di awal tulisan ini, dengan keinginan mereka yang bermimpi besar itu? Bandingkanlah obsesi yang ada dalam pikiran kita dengan obsesi mereka. Sesungguhnya, mimpi dan obsesi seseorang yang besar, indikator ia akan menjadi orang besar. [M. Lili Nur Aulia, sumber: Majalah Tarbawi edisi 220]

Read More......

Family Gathering Fosil MMB

17 Mar 2010

Pada tanggal 28 Februari 2010 kemarin FOSIL MMB Alhamdulillah dengan izin Allah SWT telah sukses melaksanakan program FAMILY GATHERINGdi Sekolah Alam Yogyakarta.
pokoknya seruuu..^^


Family Gathering bersama Ustadz Hartanto Al Hafidz Lc








Sharing session ^^ with ustadz Hartanto






Read More......

Miqdad Bin 'Amr


Rekan-rekannya berkata, “Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang fi sabilillah adalah Miqdad bin Aswad.”

Miqdad bin Aswad adalah tokoh yang sedang kita bicarakan; Miqdad bin ‘Amr. Di masa jahiliyah, ia diambil anak oleh Aswad bin ‘Abdi Yaghuts. Karena itu, ia dipanggil Miqdad bin Aswad. Tetapi setelah turunnya firman Allah yang melarang penisbatan nama seseorang ke ayah angkatnya, nama Miqdad dinisbatkan ke nama ayah kandungnya; ‘Amr bin Sa’d.


Miqdad termasuk deretan orang yang pertama masuk Islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terang-terangan, hingga menanggung penderitaan dari kekejaman kaum kafir Quraisy. Semua kekejaman itu ia hadapi secara ksatria.

Kiprah Miqdad di Perang Badar akan senantiasa terukir indah dan tidak akan terlupakan. Bahkan, setiap orang yang melihatnya berharap dialah yang melakukan kiprah itu.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku telah menyaksikan kiprah Miqdad. Seandainya aku yang melakukan kiprah itu, tentu lebih aku sukai dari pada semua yang ada di muka bimu ini.”

Hari itu, kaum muslimin tegang, karena orang-orang kafir Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat; dengan semangat dan tekad yang bergelora; dengan kesombongan dan keangkuhan mereka.

Hari itu, jumlah kaum muslimin masih sedikit, dan belum teruji dalam peperangan untuk membela Islam. Inilah peperangan pertama yang mereka terjuni.

Saat inilah Rasulullah akan mengetahui keimanan para pengikutnya dan kesiapan mereka untuk menghadapi pasukan musuh yang terdiri dari pasukan pejalan kaki dan pasukan berkuda.

Rasulullah memimta pendapat mereka. Para shahabat paham bahwa beliau benar-benar meminta pendapat mereka. Meskipun nantinya ada pendapat yang berlainan dengan pendapat kebanyakan, Rasulullah tidak akan memarahi orang tersebut.

Miqdad khawatir kalau ada diantara kaum muslimin yang masih berpikir seribu kali untuk melakukan peperangan. Karena itu, sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kata-katanya yang tegas dapat mengobarkan semangat juang dan bisa menjadi pendapat umum.

Tetapi, sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Ash Shidiq sudah mulai bicara. Apa yang dikemukakan Abu Bakar sangat baik, Miqdad pun tenang. Kemudian Umar bin Khathab menyusul bicara. Pendapatnya juga baik.

Setelah itu, barulah Miqdad angkat bicara, “Ya Rasulullah, jangan ragu! Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan duduk menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’ Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Kata-kata ini mengalir deras dari bibir Miqdad. Mendengar perkataan ini, wajah Rasulullah terlihat berseri-seri, lalu beliau berdoa untuk Miqdad.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan, cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain.

Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam. Sa’d bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, “Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita.”

Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, “Berangkatlah dan bergembiralah.”

Dan kedua pasukan pun berhadapan.

Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin ‘Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Ucapan Miqdad yang kita kemukakan tadi, tidak saja menggambarkan keberaniannya, tetapi juga melukiskan sikap bijaknya, dan pola pikirnya yang mendalam.

Dan memang demikianlah sifat Miqdad. Ia orang yang bijak, dan cara pandangnya sangat tajam. Itu tidak hanya terlihat pada ucapannya, tetapi terlihat juga pada prinsip hidup dan perilakunya yang lurus. Semua pengalamannya adalah sumber bagi sikap bijak dan pola pikirnya.

Ia pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, “Bagaimana dengan jabatanmu?” Ia jawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak adakan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang.”

Jika ini bukan sikap bijak, lantas apa?
Jika dia bukan seorang bijak, lantas siapa?
Ia adalah ser\orang laki-laki yang tidak tertipu oleh diirnya dan kelemahannya.
Ia menjadi gubernur, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu.

Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, “Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran.”

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Diantara sikap bijaknya adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah SAW yang telah menyampaikan kepada umatnya, “Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih.”

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Sikap bijaknya terlihat sangat jelas dalam dialog berikut. Seorang temannya menceritakan, “Suatu hari, kami duduk dekat Miqdad. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat dan berkata kepada Miqdad, ‘Sungguh berbahagialah kedua mata yang telah melihat rasulullah SAW ini. Demi Allah, kami sangat senang jika dapat melihat apa yang kau lihat, dan menyaksikan apa yang kau saksikan.”

Miqdad menghampirinya dan berkata, “Apa yang mendorong kalian ingin menyaksikan peristiwa yang tidak dipertontonkan oleh Allah, padahal kalian tidak tahu bagaimana kondisi kalian jika menyaksikannya? Demi Allah, ada orang-orang yang hidup di masa Rasulullah SAW tapi mereka dijerumuskan Allah ke neraka Jahannam. Sebaiknya kalian bersyukur kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang beriman kepada Allah dan Nabi kalian!”

Sungguh satu sikap bijak yang luar biasa.
Tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang kalian temui, kecuali ia menginginkan hidup di masa Rasulullah dan dapat melihatnya.

Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dapat menembus sesuatu yang tidak terjangkau oleh keinginan itu.

Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah seorang penghuni neraka?
Bukankah tidak mustahil ia berada di barisan orang-orang kafir?

Tidakkah lebih baik jika ia bersyukur kepada Allah yang telah menghidupkannya di masa di mana Islam telah tersebar luas, sehingga ia bisa melaksanakan ajaran Islam dengan mudah.

Demikianlah pandangan Miqdad, memancarkan sikap bijak dan kecerdasan. Dan setiap tindakan dan ucapannya membuktikan bahwa ia adalah orang yang bijak dan memiliki pola pikir yang mendalam.

Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Selain itu, ia orang yang bijak dan memahami permasalahan dengan benar.

Cinta yang mendalam dan tertata menjadikan pemiliknya sebagai orang yang istimewa. Ia tidak berhenti pada rasa cinta tapi tahu akan semua konsekuensinya.

Inilah tipe Miqdad bin ‘Amr. Cintanya kepada Rasulullah menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keselamatan Rasulullah. Setiap didengar ada kehebohan di Madinah, maka dengan secepat kilat Miqdad telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah menunggang kuda, sambil menghunus pedang atau tombaknya.

Cintanya kepada Islam menyebabkannya bertanggungjawab untuk membela ajaran Islam. Tidak saja dari tipu daya musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan rekan-rekannya sendiri.

Suatu ketika, ia berada dalam pasukan kecil yang berhasil dikepung oleh pasukan musuh. Komandan pasukan memerintahkan agar tidak seorang pun menggembalakan hewan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan itu, dan melanggarnya. Sebagai akibatnya ia menerima hukuman yang rupanya lebih besar dari yang seharusnya, atau bahkan tidak layak menerima hukuman.

Miqdad lewat di depan orang yang kena hukuman itu. orang itu sedang menangis dan berteriak-teriak. Ketika ditanya, ia mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad menggandeng tangan orang itu, lalu diajak pergi menghadap komandan. Terjadi dialog antara Miqdad dengan komandan. Dan akhirnya, terbukti bahwa komandanlah yang bersalah.

Miqdad berkata kepada komandan, “Sekarang berilah kesempatan kepadanya untuk melakukan qishash.”

Komandan itu patuh pada saran Miqdad. Namun tentara itu memaafkan. Miqdad melihat pemandangan ini dengan takjub. Ia mencium kebesaran Islam yang telah memberikan keluhuran. Ia berkata “Saat aku mati, Islam sudah dihormati.”

Itulah cita-citanya, yaitu kejayaan Islam saat ia meninggal dunia. Ia perjuangkan cita-cita ini dengan penuh kesabaran dan pengorbanan, bersama rekan-rekannya yang lain. Hingga ia layak menyandang sabda Nabi SAW “Sesungguhnya Allah menyuruhku menyayangimu, dan memberitahuku bahwa Dia menyayangimu.” [sumber: 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]

Read More......

Family Gathering Fosil MMB


Assalaamu'alaikum

Sobat bengkulu,
pada tanggal 28 Februari 2010 kemarin FOSIL MMB Alhamdulillah dengan izin Allah SWT telah sukses melaksanakan program FAMILY GATHERING lho.
Ada sharing session bareng ustadz Hartanto Al hafidz Lc dan outbond session..
Acara dilaksanakan di Sekolah Alam Yogyakarta.
pokoknya seruuu..^^


Naaah, kami tetap akan menunggu saran,ide, dan kontribusi dari sobat semua.
so, tunjukkan kontribusimu dan mari berkarya bareng di forum Silaturrahim kita ini ya ^^

wassalaamu'laikum
best regards
FOSIL MMB

Read More......
 
 
 

KUNJUNGAN

free counters
Powered By Blogger

detiknews - detiknews

JARINGAN

 
Copyright © KAMUS BABEL